GURU (DIGUGU LAN DITIRU) ATAUKAH GURU (DIGUYU LAN DITINGGAL TURU)?
GURU (DIGUGU LAN DITIRU) ATAUKAH GURU (DIGUYU LAN DITINGGAL TURU)?

Oleh: Ihyaul Ulumudin | 12 Sep 2025| Opini Kritis atas Kondisi Realitas Nasib Guru di Masyarakat Menengah ke Bawah

Dalam tradisi Jawa, guru sering diidentikkan dengan pepatah “guru digugu lan ditiru”—sosok yang dipercaya ucapannya dan diteladani tindakannya. Filosofi ini menggambarkan posisi luhur seorang guru: bukan hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi juga panutan moral, sosial, bahkan spiritual. Akan tetapi, dalam realitas sosial kontemporer, terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah, makna tersebut mulai mengalami pergeseran. Di beberapa ruang kehidupan, guru justru berbalik menjadi “diguyu lan ditinggal turu”—ditertawakan, disepelekan, dan diabaikan.

1. Guru sebagai Simbol Kehormatan
Secara historis, profesi guru ditempatkan dalam hierarki sosial yang terhormat. Mereka dianggap pahlawan tanpa tanda jasa, dengan peran vital dalam mencerdaskan bangsa. Guru menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan; dari keterbelakangan menuju peradaban. Figur ini bahkan melekat dalam pepatah Jawa yang sarat penghormatan. Namun, idealitas tersebut kerap hanya berhenti pada slogan—tidak selalu berbanding lurus dengan realitas kehidupan mereka.

2. Realitas Sosial-Ekonomi Guru Menengah ke Bawah
Kondisi guru, khususnya di masyarakat menengah ke bawah, jauh dari gambaran ideal. Beberapa problem utama yang dapat diamati antara lain:
- Ketidakpastian ekonomi: Banyak guru honorer atau swasta menerima gaji jauh di bawah standar kebutuhan hidup.
- Beban kerja berlapis: Guru dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga mengurus administrasi hingga tugas non-pedagogis.
- Kurangnya apresiasi sosial: Di beberapa lapisan masyarakat, profesi guru tidak lagi ditempatkan sebagai simbol kehormatan.
- Kesenjangan sosial: Guru yang hidup di kalangan menengah ke bawah sering harus bergulat dengan realitas murid yang juga menghadapi keterbatasan.

3. Pergeseran Makna: Dari “Ditiru” ke “Ditinggal Turu”
Fenomena “guru diguyu lan ditinggal turu” adalah sindiran sosial yang tajam, dengan mengambil perumpamaan realitas dikelas, ketika siswa mengantuk (dan bahkan tidur) ketika penjelasan guru dianggap tidak ada yang menarik). Hal ini bisa dimaknai sebagai tanda melemahnya wibawa guru di hadapan murid maupun masyarakat. Faktor penyebabnya antara lain:
- Komersialisasi pendidikan.
- Perubahan budaya digital yang menggeser otoritas ilmu.
- Rendahnya kesejahteraan guru.
- Kritik masyarakat yang berlebihan tanpa refleksi peran keluarga.

4. Implikasi terhadap Masa Depan Pendidikan
Jika realitas ini dibiarkan, maka profesi guru akan semakin ditinggalkan generasi muda. Tidak banyak anak muda bercita-cita menjadi guru karena melihat kerasnya perjuangan dibandingkan dengan kesejahteraan yang minim. Pada akhirnya, kualitas pendidikan di masyarakat menengah ke bawah semakin terjebak dalam lingkaran keterbelakangan.

5. Jalan Keluar: Mengembalikan Marwah Guru
Beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan posisi guru pada makna sejatinya, antara lain:
1. Peningkatan kesejahteraan yang adil dan merata.
2. Penguatan peran masyarakat dan keluarga untuk kembali menempatkan guru sebagai mitra.
3. Reformasi kebijakan pendidikan agar lebih manusiawi.
4. Revitalisasi budaya hormat kepada guru melalui pendidikan karakter dan kampanye sosial.

Penutup
Guru idealnya tetap menjadi “digugu lan ditiru”. Namun kenyataan sering memaksa mereka diperlakukan sebaliknya: “diguyu lan ditinggal turu”. Artikel ini bukan sekadar kritik, melainkan ajakan reflektif agar masyarakat, pemerintah, dan semua pihak kembali menempatkan guru pada posisi yang semestinya. Sebab, ketika wibawa dan kesejahteraan guru runtuh, maka runtuh pulalah pilar utama pendidikan bangsa.

Penulis: M IHYAUL ULUMUDIN

Tanggal: 12 September 2025 06:59

Disetujui

Kolom Opini
𝘿𝙞𝙡𝙚𝙢𝙖 𝙇𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖n 𝙎𝙈𝘼, 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙈𝘼 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝘽𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖
𝘿𝙞𝙡𝙚𝙢𝙖 𝙇𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖n 𝙎𝙈𝘼, 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙈𝘼 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝘽𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 10 May 2026

Setiap tahun, ribuan lulusan SMA, SMK, dan MA memasuki fase baru dalam kehidup...

Baca Selengkapnya

Menjaga Tradisi, Membangun Generasi: MTs Al Muhtadi Lestarikan Basa Krama Lewat Kokurikuler
Menjaga Tradisi, Membangun Generasi: MTs Al Muhtadi Lestarikan Basa Krama Lewat Kokurikuler

Oleh: M. Yunus | 30 Apr 2026

Mentari pagi menyapa hangat halaman MTs Al Muhtadi Sendangagung pada Sabtu, 18 A...

Baca Selengkapnya

*Bapak Kapolres Lamongan memberikan apresiasi dalam acara wisuda baca kitab cepat metode Al Fatih Smp Islam Bustanul Hikmah*
*Bapak Kapolres Lamongan memberikan apresiasi dalam acara wisuda baca kitab cepat metode Al Fatih Smp Islam Bustanul Hikmah*

Oleh: M. Yunus | 29 Apr 2026

Pada Hari Selasa (28/05/2026), SMP Islam Bustanul Hikmah menggelar acara demonst...

Baca Selengkapnya

MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya