Ketika Penerima PKH Lebih Hedon Gaya Hidupnya dari Warga Miskin Kategori Mandiri?
Ketika Penerima PKH Lebih Hedon Gaya Hidupnya dari Warga Miskin Kategori Mandiri?

iki iku gapura setan, nek lewat ati2 duluuuur


oleh: Hanajuwa

Di sebuah sudut kampung, pemandangan yang kerap menimbulkan desah panjang: penerima Program Keluarga Harapan melintas anggun di atas sepeda listrik, gelang emas sebesar jangkar kapal berkilau di pergelangan tangan. Entah emas murni atau imitasi pasar malam, kilauannya cukup untuk menyalakan rasa iri di hati tetangga yang tak kebagian bantuan. Ironi pun terasa tebal: yang disebut “keluarga prasejahtera” justru tampak lebih bergaya daripada mereka yang menolak bantuan dan memilih mandiri.

Ada yang berbisik sinis, “Mungkin itu strategi sadar lingkungan, supaya hemat BBM dan mengurangi emisi karbon.” Lelucon pahit yang sekaligus mengundang tawa—karena sepeda listrik yang mahal itu justru memamerkan daya beli. Sementara para pedagang kecil yang bekerja dari fajar hingga malam masih mengandalkan sepeda motor supra jadul yang getar head lamp-nya. rantainya berbunyi dan suara mesinnya terdengar lelaaaah kaakaaaak.

Bukan rahasia, program bantuan sosial memang rentan disalahpahami. Tujuannya mulia: menopang keluarga rentan agar bisa bertahan dan bangkit. Namun di lapangan, verifikasi kerap berlubang. Data tak diperbarui, penerima yang seharusnya naik kelas tetap tercatat miskin, sementara yang benar-benar butuh justru tersisih. Jadilah kesenjangan yang membikin getir, diwarnai pamer kemewahan yang—meski mungkin hanya ilusi—menampar rasa keadilan.

Namun mari berhenti sejenak. Barangkali gelang jangkar itu hanyalah pinjaman untuk hajatan, barangkali sepeda listriknya cicilan yang nyaris macet. Kita tak pernah tahu isi dompet orang lain. Yang jelas, ketimpangan rasa tetap ada: bantuan negara semestinya jaring pengaman, bukan tiket gaya hidup.

Sindiran ini seharusnya tak hanya diarahkan ke penerima, tapi juga ke sistem. Selama pendataan tak ketat dan evaluasi jarang, PKH akan terus jadi bahan obrolan sarkastik: bantuan yang diniatkan menolong, tetapi di mata tetangga malah tampak seperti parade kemewahan berlabel miskin.

Penulis: Hanajuwa

Tanggal: 19 September 2025 23:53

Disetujui

Kolom Opini
𝘿𝙞𝙡𝙚𝙢𝙖 𝙇𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖n 𝙎𝙈𝘼, 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙈𝘼 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝘽𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖
𝘿𝙞𝙡𝙚𝙢𝙖 𝙇𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖n 𝙎𝙈𝘼, 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙈𝘼 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝘽𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 10 May 2026

Setiap tahun, ribuan lulusan SMA, SMK, dan MA memasuki fase baru dalam kehidup...

Baca Selengkapnya

Menjaga Tradisi, Membangun Generasi: MTs Al Muhtadi Lestarikan Basa Krama Lewat Kokurikuler
Menjaga Tradisi, Membangun Generasi: MTs Al Muhtadi Lestarikan Basa Krama Lewat Kokurikuler

Oleh: M. Yunus | 30 Apr 2026

Mentari pagi menyapa hangat halaman MTs Al Muhtadi Sendangagung pada Sabtu, 18 A...

Baca Selengkapnya

*Bapak Kapolres Lamongan memberikan apresiasi dalam acara wisuda baca kitab cepat metode Al Fatih Smp Islam Bustanul Hikmah*
*Bapak Kapolres Lamongan memberikan apresiasi dalam acara wisuda baca kitab cepat metode Al Fatih Smp Islam Bustanul Hikmah*

Oleh: M. Yunus | 29 Apr 2026

Pada Hari Selasa (28/05/2026), SMP Islam Bustanul Hikmah menggelar acara demonst...

Baca Selengkapnya

MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya