Dari Tungku Kayu ke Kompor Nuklir 2045: Modernitas yang Memusingkan
Dari Tungku Kayu ke Kompor Nuklir 2045: Modernitas yang Memusingkan

omah reyot hangus terbakar karena LPG ngowossss


Oleh: Hanajuwa

Di kampung, hidup sederhana itu nikmat. Dulu, asap tungku kayu mengepul wangi, nasi matang dibungkus godong gedang atau jati, aroma tanah basah jadi bumbu alam. Tak ada tagihan gas, tak ada plastik menumpuk. Lalu negara datang dengan proyek konversi: minyak tanah dibilang kotor, disuruh pakai gas LPG demi kebersihan dan “kemajuan”. Orang kampung manut, karena katanya itu jalan menuju modernitas.

Tak lama, magic jar dan kompor gas jadi simbol rumah tangga kekinian. Memasak tinggal klik, tak perlu menebang kayu. Tapi ketika ekonomi merosot dan harga LPG naik, barulah terasa: hidup modern ternyata mahal. Tumpukan kayu yang dulu berharga kini jadi sampah tak terpakai. Barongan belakang rumah tak lagi rimbun, tepi jalan penuh plastik bekas isi gas, TPS Tambakboyo meluber daun kering bercampur plastik, seperti pasar malam yang gagal tutup.

Negara bilang semua demi kemajuan, tapi kita tahu aroma proyek uang di baliknya. Setiap konversi butuh anggaran besar, pengadaan ini-itu, tender sana-sini. Aneh sekali, pengusaha kaya mendadak mau jadi menteri atau anggota DPR dengan gaji yang tak seberapa. Kalau niatnya murni mengabdi, kenapa matanya berbinar tiap kali ada program baru? Preeettt… siapa percaya?

Lucunya, setelah gas, kini muncul wacana energi nuklir rumah tangga. Apa nanti orang kampung diminta menyalakan kompor atom, demi “efisiensi”? Mungkin besok nasi liwet disajikan dengan radiasi rendah.

Orang kampung hanya ingin hidup selaras dengan alam: kayu bakar, daun pembungkus, udara bebas. Modernitas yang dipaksakan justru mengikat, membuat biaya hidup melangit dan bumi penuh sampah. Jadi, wahai negara, jangan lagi ubah gaya hidup kami demi proyek yang hanya menguntungkan kawan dan kongsi. Kami sudah cukup maju tanpa harus jadi percobaan ambisi politis.

Penulis: Hanajuwa

Tanggal: 20 September 2025 00:13

Disetujui

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya

Tentang Kami

Website ini merupakan portal resmi PC Pergunu Lamongan

Kontak Kami

Alamat: Jl. Kiyai Amin No. 9, Lamongan

Telepon: 0813-3033-8328

Email: admin@pergunulamongan.or.id


© 2026 PC. Pergunu Lamongan. All Rights Reserved.