omah reyot hangus terbakar karena LPG ngowossss
Oleh: Hanajuwa
Di kampung, hidup sederhana itu nikmat. Dulu, asap tungku kayu mengepul wangi, nasi matang dibungkus godong gedang atau jati, aroma tanah basah jadi bumbu alam. Tak ada tagihan gas, tak ada plastik menumpuk. Lalu negara datang dengan proyek konversi: minyak tanah dibilang kotor, disuruh pakai gas LPG demi kebersihan dan “kemajuan”. Orang kampung manut, karena katanya itu jalan menuju modernitas.
Tak lama, magic jar dan kompor gas jadi simbol rumah tangga kekinian. Memasak tinggal klik, tak perlu menebang kayu. Tapi ketika ekonomi merosot dan harga LPG naik, barulah terasa: hidup modern ternyata mahal. Tumpukan kayu yang dulu berharga kini jadi sampah tak terpakai. Barongan belakang rumah tak lagi rimbun, tepi jalan penuh plastik bekas isi gas, TPS Tambakboyo meluber daun kering bercampur plastik, seperti pasar malam yang gagal tutup.
Negara bilang semua demi kemajuan, tapi kita tahu aroma proyek uang di baliknya. Setiap konversi butuh anggaran besar, pengadaan ini-itu, tender sana-sini. Aneh sekali, pengusaha kaya mendadak mau jadi menteri atau anggota DPR dengan gaji yang tak seberapa. Kalau niatnya murni mengabdi, kenapa matanya berbinar tiap kali ada program baru? Preeettt… siapa percaya?
Lucunya, setelah gas, kini muncul wacana energi nuklir rumah tangga. Apa nanti orang kampung diminta menyalakan kompor atom, demi “efisiensi”? Mungkin besok nasi liwet disajikan dengan radiasi rendah.
Orang kampung hanya ingin hidup selaras dengan alam: kayu bakar, daun pembungkus, udara bebas. Modernitas yang dipaksakan justru mengikat, membuat biaya hidup melangit dan bumi penuh sampah. Jadi, wahai negara, jangan lagi ubah gaya hidup kami demi proyek yang hanya menguntungkan kawan dan kongsi. Kami sudah cukup maju tanpa harus jadi percobaan ambisi politis.
Penulis: Hanajuwa
Tanggal: 20 September 2025 00:13
Disetujui