sukses truuuus kakaaaaak
Oleh: Hanajuwa
Di tengah hiruk-pikuk wacana pembangunan yang sering hanya berhenti di gedung kementerian, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terdengar seperti angin segar. Bukan proyek mercusuar yang menyundul langit dengan jargon teknologi super, melainkan gagasan kembali ke akar: desa sebagai pusat ekonomi, gotong royong sebagai modal utama.
Bayangkan setiap desa memiliki koperasi yang benar-benar hidup, bukan sekadar papan nama di dinding balai. Petani, pengrajin, pedagang, hingga anak muda bisa bergabung, menabung, meminjam modal, dan memasarkan produk tanpa harus menunggu investor raksasa. Uang berputar di lingkaran lokal; keuntungan kembali ke warga, bukan melayang ke konglomerat kota.
KDMP—dengan semangat merah putih—bisa menjadi jawaban atas kegelisahan desa selama ini: harga hasil panen yang dipermainkan tengkulak, kesulitan akses permodalan, dan ketergantungan pada bantuan instan. Jika dikelola transparan, koperasi semacam ini mampu menciptakan lapangan kerja, menahan laju urbanisasi, bahkan menjaga kedaulatan pangan.
Namun tantangan selalu mengintai. Koperasi sering tergelincir jadi alat politik atau ajang “bagi-bagi kue” para elite lokal. Tanpa manajemen profesional, semangat gotong royong mudah berubah menjadi rebutan keuntungan. Maka KDMP harus berdiri di atas prinsip akuntabilitas yang tegas: laporan keuangan terbuka, pengurus dipilih demokratis, dan keuntungan benar-benar kembali ke anggota.
Yang menarik, konsep ini sejalan dengan tradisi lama desa: kerja bersama, lumbung padi, arisan gotong royong. Bedanya, kini dibungkus manajemen modern dan dukungan teknologi digital untuk pemasaran.
Kalau berhasil, KDMP bukan hanya koperasi; ia bisa jadi mercusuar yang menyalakan kemandirian ekonomi desa, dari Sabang sampai Merauke. Bukan mercusuar yang menyilaukan mata seperti proyek raksasa penuh janji, melainkan pelita yang hangat, menghidupi, dan benar-benar merah putih.
Penulis: Hanajuwa
Tanggal: 20 September 2025 00:19
Disetujui