Ini baru keren, wisata religi/kuburan Toraja yang melegenda sepanjang masa
oleh: hanajuwa
Fenomena wisata desa “abal-abal” kerap berulang: mendadak viral di media sosial, penuh pengunjung sebulan, lalu sunyi seperti halaman rumah selepas hajatan. Awalnya ada semangat gotong royong—warga mengecat jembatan warna-warni, memasang spot foto kekinian, membuka warung dadakan. Namun setelah gegap gempita awal mereda, pengunjung berkurang, warung tutup, cat memudar, dan sampah kenangan tertinggal.
Mengapa ini terjadi? Pertama, konsep wisata sering dikejar instan. Desa terburu-buru mengikuti tren tanpa riset potensi lokal. Alamnya biasa saja, kuliner tak unik, atraksi budaya tak dikelola serius. Hanya mengandalkan “instagramable” dan promosi media sosial. Padahal wisata bukan sekadar latar foto; orang datang karena pengalaman, cerita, dan layanan yang berkesan.
Kedua, pengelolaan lemah. Setelah uang tiket masuk terkumpul, tidak ada manajemen berkelanjutan. Dana perawatan habis untuk perayaan pembukaan, bukan pemeliharaan. Akhirnya jembatan retak, toilet rusak, dan pengunjung kecewa.
Solusinya? Mulai dari identitas. Desa harus menggali kekuatan yang benar-benar khas: kearifan lokal, kerajinan, pertanian unik, atau panorama alam yang dirawat. Tidak harus megah; keaslian justru daya tarik. Kedua, pendampingan profesional: pelatihan manajemen, pemasaran, dan pelayanan. Libatkan pemuda desa, kelompok tani, hingga BUMDes agar roda ekonomi tetap berputar.
Ketiga, model bisnis jelas. Tetapkan harga masuk wajar, sisihkan dana khusus untuk perawatan dan promosi. Buat jadwal acara rutin—festival panen, pasar kuliner mingguan, lokakarya kerajinan—agar pengunjung punya alasan kembali.
Keempat, kemitraan digital. Gunakan platform pemesanan, buat konten cerita, bukan sekadar foto. Wisatawan kini mencari pengalaman autentik: belajar menanam padi, memasak tradisional, atau jelajah alam dengan pemandu lokal.
Dengan identitas, manajemen, dan keberlanjutan, desa wisata bisa bertahan lebih dari sebulan viral. Bukan “abal-abal” musiman, tetapi destinasi yang memberi manfaat jangka panjang bagi warga dan pengunjung.
Penulis: Hanajuwa
Tanggal: 20 September 2025 00:22
Disetujui