wes sak karepmu, cuma yo pengaruhe uakeh tur uomboooo, kabeh dianggap podo, mbuh ah
Oleh: Hanajuwa
Belum lagi deretan oknum yang mengaku wartawan, jumlahnya ribuan, tapi tulisan mereka seperti anak SD yang tak naik kelas selama dua puluh lima tahun. Kalimatnya melompat-lompat, ejaan kacau, logika hilang entah ke mana. Namun bila bicara di warung kopi, nada suaranya menyundul langit seolah pemilik seluruh kebenaran.
Fenomena “wartawan dadakan” ini bak jamur musim hujan. Hanya bermodal kartu pers abal-abal dan akun media sosial, mereka berkeliaran dari kantor desa sampai proyek jalan tol. Undangan peliputan dianggap karcis makan gratis, konferensi pers jadi ladang amplop. Begitu diajak ikut Uji Kompetensi Wartawan resmi, langsung ngacir tak berani—takut ketahuan bahwa menulis berita saja belum paham 5W1H.
Dampaknya bukan main. Masyarakat bingung membedakan jurnalis sungguhan dengan pemburu stempel. Reputasi media ikut tercoreng; orang jadi sinis, menganggap semua wartawan sama—padahal banyak jurnalis profesional yang berpeluh menjaga etika.
Apa solusinya? Pertama, redaksi dan organisasi pers mesti tegas: tak cukup memegang kartu, harus lulus uji kompetensi dan punya portofolio nyata. Kedua, lembaga pemerintah dan swasta jangan sembarang mengundang atau meladeni “media” yang tak jelas. Tanpa panggung, oknum tak akan betah.
Masyarakat pun perlu melek literasi: bedakan berita serius dengan tulisan ala status Facebook. Dukung media yang memegang kode etik, jangan sekadar berbagi tautan sensasional.
Wartawan sejati adalah penjaga kebenaran, bukan pemburu amplop. Yang hanya modal kartu pers dan pidato langit, biarlah tetap di warung kopi—tempat kata-kata bisa terbang setinggi mercusuar tanpa harus menipu publik. Dunia jurnalistik terlalu penting untuk diserahkan pada mereka yang bahkan takut menguji diri.
Penulis: Hanajuwa
Tanggal: 20 September 2025 00:31
Disetujui