Cahaya dari Sinarjati: Perjuangan Bintang di Balik Keterbatasan
Oleh: Rois Anwar
Udara pagi di Desa Sinarjati, selalu membawa aroma khas: perpaduan udara desa, lumpur sawah para petani, dan suara lantunan qiro’ah yang setiap datang saat menjalang sore hari. Di antara suara kokok ayam, Bintang (16 tahun) sudah terjaga. Jam masih menunjukkan pukul 04.30, tetapi bagi Bintang, hari sudah dimulai.
Ia bukan hanya seorang pelajar di SMA terdekat Desa Sinarjati, tetapi juga tangan kanan ayah dan ibunya. Sebelum seragam putih abu-abu itu membalut tubuhnya, Bintang harus membantu membersihkan dapur setelah dibuat untuk memasak jajanan dan menyiapkan jajan yang akan dijual ibunya di pasar seberang selatan desa Sinarjati. Tangannya yang seharusnya memegang pena, kini cekatan mempersiapkan jajannya.
Sekolah Bintang berjarak hampir sepuluh 3km dari rumahnya. Tidak ada angkutan umum yang menjangkau desa mereka. Setiap hari, Bintang berjalan melintasi jalan setapak di gang-gang sempit samping rumah para tetangga dan sering becek saat musim hujan. Perjalanan itu memakan waktu lebih 13 menit.
“Bintang, jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat sekolah. Jangan sampai perutmu kosong saat ujian nanti,” pesan Ibu, menyodorkan sebungkus nasi dengan lauk rempeyek kuning.
“Iya, Bu. Bintang berangkat dulu,” jawabnya sambil mencium tangan ibunya.
Perjuangan Bintang bukan hanya soal jarak. Di sekolah, ia harus bersaing dengan murid-murid dari kota yang memiliki fasilitas belajar lengkap, bimbingan belajar, dan akses internet yang mudah. Sementara Bintang, hanya mengandalkan buku-buku usang pinjaman dari perpustakaan sekolah dan cahaya lampu minyak untuk belajar di malam hari, setelah lelah membantu orang tua.
Konflik yang Menguji
Suatu sore, hujan turun sangat deras. Jalanan tanah yang biasa ia lalui berubah menjadi sungai lumpur yang licin. Ban sepeda Bintang terperosok, rantainya putus. Ia harus berjalan kaki sambil menuntun sepeda yang rusak, membuat seragamnya kotor dan buku-bukunya basah. Ia tiba di rumah dengan demam tinggi.
Keesokan harinya, Ayah Bintang jatuh sakit. Penghasilan keluarga terhenti. Bintang terpaksa tidak masuk sekolah selama tiga hari untuk menggantikan posisi ayahnya untuk mengantar ibunya jualan ke pasar. Rasa lelah fisik dan mental mulai menggerogoti.
“Ayah, Bu, sepertinya Bintang berhenti sekolah saja. Bintang bisa bantu Ayah penuh waktu. Kita bisa menabung lebih cepat,” ucap Bintang suatu malam, suaranya bergetar menahan air mata.
Ayah Bintang, meski tubuhnya lemah, memaksakan diri untuk duduk. Ia menatap mata anaknya dengan tatapan yang dalam.
“Nak, lihatlah desa kita. Apa yang membedakan kita dengan orang-orang di kota? Bukan lahan sawahnya, bukan hasil padinya. Tapi ilmunya. Ayah dan Ibu tidak punya apa-apa untuk diwariskan, kecuali semangatmu untuk belajar,” kata Ayah.
“Pendidikan itu seperti cahaya, Bintang. Dia tidak akan membuat jalanmu langsung mulus, tapi dia akan menerangi jalanmu, agar kamu tahu ke mana harus melangkah. Jangan pernah padamkan cahaya itu, Nak.”
Titik Balik dan Cahaya Harapan
Kata-kata ayahnya menancap kuat di hati Bintang. Ia teringat pada Pak Riski, guru Fisika yang selalu memotivasinya. Pak Riski pernah berkata, *“Keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pemicu. Kalian adalah generasi yang akan membangun langkah-langkah kecil generasi selanjutnya yang ada desa, bukan meninggalkannya.”*
Bintang kembali ke sekolah dengan semangat baru. Ia tahu, ia tidak bisa mengeluh. Ia harus mencari solusi.
Ia mulai memanfaatkan setiap menit. Saat istirahat, ia tidak bermain, melainkan membaca. Sepulang sekolah, ia mencari sinyal internet gratis di warung kopi luar desanya untuk mengunduh materi pelajaran dan sekedar mencari berita tentang pengetahuan baru. Ia bahkan menawarkan diri untuk mengajar les calistung (baca, tulis, hitung) kepada anak-anak tetangganya.
Perjuangannya membuahkan hasil. Di akhir semester, Bintang berhasil meraih peringkat pertama di sekolah. Lebih dari itu, ia mendapat informasi tentang beasiswa penuh untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Surabaya, yang dikhususkan bagi siswa berprestasi dari daerah terpencil.
Klimaks dan Resolusi
Dengan dukungan penuh dari bapak ibu guru, Bintang mempersiapkan diri untuk seleksi beasiswa tersebut. Ia belajar siang dan malam, mengorbankan waktu tidurnya. Ia tahu, ini adalah kesempatan emas, satu-satunya jalan untuk mewujudkan janji kepada orang tuanya.
Hari pengumuman tiba. Jantung Bintang berdebar kencang saat ia membuka amplop itu.
“Selamat, Ananda Bintang… Anda diterima sebagai penerima Beasiswa Penuh Sarjana Muda.”
Air mata Bintang tumpah. Bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan dan kebahagiaan yang tak terhingga. Ia berlari pulang, memeluk erat Ayah dan Ibunya.
“Ayah, Bu, Bintang berhasil! Bintang akan kuliah!”
Ayah Bintang hanya bisa tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, cahaya yang ia minta untuk tidak dipadamkan itu, kini telah bersinar terang.
Bintang akhirnya meninggalkan Desa untuk sementara, membawa semangat serta harapan. Ia tahu, perjuangannya baru dimulai. Namun, ia berjanji, suatu hari nanti, ia akan kembali. Ia akan membawa pulang ilmu dan pengalamannya, agar anak-anak lain tidak perlu lagi menempuh jalan berlumpur yang sama.
Kisah Bintang adalah kisah tentang kekuatan tekad. Bahwa di balik keterbatasan dan kesulitan, selalu ada cahaya harapan yang menunggu untuk dinyalakan. Dan kunci untuk menyalakan cahaya itu adalah pendidikan.
“Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mereka yang terus berjuang melawan kebodohan, kemalasan dan ketidak pedulian”
— Selesai —
Penulis: Rois Anwar
Tanggal: 25 November 2025 03:37
Disetujui