Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianugerahi ilmu khusus, Khidir, yang terabadikan dalam Surah Al-Kahfi, bukanlah sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah sebuah cermin abadi yang merefleksikan benturan paling hakiki dalam setiap kepemimpinan, termasuk dinamika yang mengguncang tubuh organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU). Narasi ini menantang kita untuk melihat bahwa kebaikan dan kebenaran acapkali hadir dalam dua wajah yang tampak kontradiktif: Syariat yang terang benderang dan hakikat yang terselubung misteri.
Al-Kahf: Pertemuan Dua Ranah Kebenaran
Musa, Sang Rasul Ulul 'Azmi, memanggul tugas berat: menegakkan syariat, yakni hukum-hukum Allah yang terperinci dan wajib dilaksanakan. Ia adalah perwujudan keadilan prosedural, di mana yang tampak salah harus dikritik dan yang benar harus ditegakkan. Sementara Khidir, hamba yang dianugerahi ilmu ladunni, bergerak dalam ranah Hakikat—sebuah ilmu yang mengurai takdir dan hikmah di balik peristiwa yang tampak jahat.
Ketika Khidir melubangi perahu orang miskin, membunuh seorang anak yang polos, dan mendirikan dinding tanpa upah, Musa yang ghirah-nya terhadap kebenaran syariat membara, tak kuasa menahan diri. Tiga kali ia melanggar janji, tiga kali pula ia berteriak, "Mengapa engkau melakukan perbuatan munkar ini?"
Inilah titik kritisnya: tindakan Khidir adalah perintah Ilahi yang berada di luar jangkauan syariat umum—sebuah operasi penyelamatan yang melampaui nalar. Khidir merusak untuk menyelamatkan (perahu), mengambil nyawa untuk menjamin keimanan (anak), dan beramal tanpa pamrih untuk menjaga amanah (dinding). Di sisi lain, pertanyaan dan kritik Musa adalah perintah Ilahi juga, sebuah kewajiban tabligh bagi seorang Rasul untuk menjaga agar batas-batas syariat tidak dilanggar oleh siapapun, demi menjaga keselamatan umat secara kolektif. Musa tidak salah dalam substansi kritik, ia hanya alpa pada perjanjian keilmuan yang ia buat. Derajatnya sebagai Rasul, penjaga hukum, tetaplah lebih tinggi, bahkan di hadapan ilmu hakikat Khidir.
Cermin Organisasi: Ketika Khidir dan Musa Bersemi di PBNU
Ketika kita memandang pusaran konflik kepemimpinan, perdebatan kebijakan, atau ketegangan struktural dalam sebuah organisasi besar seperti PBNU, kita menyaksikan drama yang mirip. Kita melihat dua jenis insan yang sama-sama berjuang demi kebaikan organisasi (maslahatul ummah), namun dari dua sudut pandang yang berbeda:
Musa Organisasi: Penjaga Konstitusi dan Prosedur
Mereka yang berdiri sebagai 'Musa' adalah para penjaga Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), regulasi, dan norma-norma baku organisasi (“syariat” organisasi). Mereka melihat setiap langkah yang melanggar prosedur sebagai kemunkaran yang wajib dikritik. Mereka berani bersuara keras karena keyakinan bahwa tertib administrasi dan keadilan prosedural adalah fondasi yang mencegah organisasi dari kehancuran jangka panjang. Bagi mereka, maslahat harus dicapai melalui jalan yang sah. Kedudukan mereka adalah agung, sebab mereka adalah qa’im bi al-adl—penegak keadilan.
Khidir Organisasi: Pembawa Visi dan Keputusan Berani
Mereka yang mengambil peran sebagai 'Khidir' adalah para pemimpin yang yakin bahwa mereka harus mengambil langkah-langkah drastis, tak populer, atau bahkan melangkahi norma yang ada, demi visi dan maslahat jangka panjang yang tidak dapat dilihat oleh mata awam. Mereka merasa beroperasi di ranah hakikat kepemimpinan, mengambil risiko besar—melubangi perahu hari ini—untuk menghindari perampasan yang lebih besar di masa depan. Mereka bergerak berdasarkan ilham kebijakan yang mereka yakini datang dari istiqamah dan tawakkal mereka.
Dalam kondisi kisruh, kedua pihak sama-sama meyakini kebenaran versinya. Tidak ada pihak yang sepenuhnya salah. Pihak 'Khidir' mengambil tindakan yang dirasa esensial; pihak 'Musa' menjalankan tugasnya sebagai pengawas dan penegak. Friksi ini, dalam kacamata teori konflik fungsional Lewis A. Coser, bukanlah bencana total, melainkan sebuah katup pengaman yang memaksa sistem organisasi untuk bermetamorfosis, memperjelas batas, dan mencari titik keseimbangan normatif yang baru. Konflik, dalam bingkai ini, adalah usaha mempertahankan kebenaran dalam versi yang berbeda.
Adab Jamaah: Menatap Konflik dengan Mata Mufassir
Maka, sebagai jamaah yang beradab dan terdidik, cara kita menyikapi konflik kepemimpinan haruslah mencontoh kemuliaan para mufassir agung. Saat menafsirkan kisah ini, tidak pernah lupa menyebutkan kehebatan Khidir, tanpa pernah melupakan keagungan dan kedudukan tinggi Musa a.s. sebagai Rasulullah.
Sebagai jamaah, wajib kiranya menghormati kedudukan “syariat” Musa: Memuliakan dan menaati aturan yang berlaku. Berani mengkritik penyimpangan munkar yang tampak di permukaan adalah keberanian yang mulia. Tentu dengan tidak mengeyampingkan kemungkinan Hikmah Khidir: Memberikan husnuzhan (prasangka baik) bahwa keputusan yang tampak kontroversial mungkin menyimpan hikmah dan penyelamatan jangka panjang yang tak kita pahami.
Dengan kerangka pikir ini, kita menyadari bahwa dalam setiap dinamika organisasi, setiap orang berpotensi menjadi Musa yang kritis sekaligus Khidir yang visioner. Kebenaran hakiki tidak terletak pada pihak mana yang menang, melainkan pada kemampuan kita untuk mengakui adanya dua jenis kebenaran yang harus berinteraksi: kebenaran prosedural yang harus dijaga, dan kebenaran tujuan yang harus dicapai. Kedua-duanya adalah mandat Ilahi dalam mengelola dunia ini.
Lalu siapa Musa dan siapa pula Khidir?. Wallahu a’lam.
Penulis: Muhammad Asrori
Tanggal: 30 November 2025 15:34
Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026
MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...
Baca SelengkapnyaOleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026
Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...
Baca SelengkapnyaOleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025
Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...
Baca SelengkapnyaOleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025
Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...
Baca Selengkapnya