ESAI ARSITEKTUR: Empat Gapura, Empat Zaman
ESAI ARSITEKTUR: Empat Gapura, Empat Zaman

Kalau mau menelusuri sejarah Jawa Timur, jangan hanya membaca buku. Melihat keindahan arsitek klasik adalah candu. Jalan kaki ke empat gapura ini jauh lebih seru. Empat pintu masa lalu. Masing-masing bicara sendiri—tanpa perlu pemandu, tanpa perlu juru cerita. Saya mencobanya: Bajang Ratu, Wringin Lawang, Gajah Mungkur, dan Paduraksa Sunan Sendang Duwur.

Keempatnya seperti saudara kandung yang lahir beda abad. Sama-sama terbuat dari bata merah, sama-sama berdiri kokoh di tanah yang sering diguyur hujan tropis, tapi wataknya tak sama. Mari kita dengarkan satu-satu.

Bajang Ratu: Gapura yang Anggun

Bajang Ratu di Trowulan itu seperti bangsawan tua yang tetap anggun meski dimakan usia. Menjulang 16 meter, langsing, atapnya utuh menyatu. Pintu ke ruang yang paling sakral.

Konon dibangun untuk mengenang Raja Jayanegara. Abad ke-14. Majapahit sedang gagah-gagahnya. Relief kala-makara, bunga teratai, dan cerita Ramayana menghiasinya. Bata merahnya rapat, sambungannya nyaris tak kelihatan. Arsiteknya, entah siapa, pasti perfeksionis. Anda menatapnya, lalu paham: inilah gerbang menuju surga versi Hindu–Buddha.

Wringin Lawang: Candi Bentar Sang Penjaga Kedaton

Bergeser beberapa kilometer, masih di Trowulan, berdiri Wringin Lawang. Tingginya sekitar 15 meter, tetapi beda watak. Ini bukan paduraksa. Ini candi bentar—gerbang terbelah dua, bagian atasnya terbuka.

Dulu, mungkin inilah pintu masuk ke kedaton Majapahit. Simetris, tegap, tapi tanpa banyak ornamen. Seolah bilang: “Silakan masuk, tapi tetap hormat.” Fungsinya lebih administratif ketimbang spiritual. Kalau Bajang Ratu adalah pangeran yang suka seni, Wringin Lawang adalah jenderal penjaga istana. Tegas dan tanpa basa-basi.

Gajah Mungkur: Islam Pesisir, Selera Majapahit

Lompat ke Gresik, kita masuk abad ke-16. Majapahit sudah tamat, Islam pesisir sedang naik daun. Tapi teknik arsitektur Majapahit masih hidup. Gapura Gajah Mungkur di kompleks makam Sunan Giri buktinya.

Sekilas, bentuknya tetap paduraksa. Atapnya menyatu. Bata merahnya sama. Bedanya, ornamen Hindu lenyap. Diganti kaligrafi Arab, sulur-sulur hijau, dan ukiran bunga khas Islam awal. Nama “Gajah Mungkur” pun unik—konon ada kisah gajah yang menoleh ke belakang saat Sunan Giri dimakamkan.

Di sini kita belajar: Islamisasi di Jawa bukan penghapus, tapi penyerap. Batu bata Majapahit masih dipakai. Teknik sambung tanpa semen tetap jadi kebanggaan. Hanya maknanya yang bergeser.

Paduraksa Sunan Sendang Duwur: Bukit dan Samudra

Lamongan punya cerita sendiri. Naik bukit di Paciran, sampailah kita di Gapura Paduraksa Sunan Sendang Duwur. Abad ke-16 juga. Dibangun di atas lokasi pura Hindu lama.
Sekali lihat, Anda tahu: ini anak kandung Majapahit, tapi berjiwa Islam. Atapnya menyatu, reliefnya campur: kaligrafi Arab diapit motif flora Majapahit. Bahkan ada porselen Tiongkok menempel di dinding—jejak jalur dagang pesisir utara.
Udara laut bercampur angin bukit. Orang datang berziarah. Gapura ini seperti menegaskan: “Tradisi lama boleh dijaga, keyakinan baru tetap dipeluk.”

Dari gambran diatas, ada jejak evolusi: dari kekuasaan agraris pedalaman ke kebangkitan kota-kota pelabuhan pesisir. Dari Hindu–Buddha ke Islam. Dari relief Ramayana ke kaligrafi Arab.

Tetapi perhatikan satu benang merah: bata merah. Teknik sambungnya tetap sama, rapi tanpa semen. Bukti bahwa teknologi Majapahit tak mati—ia hanya berganti fungsi.

Politik dan Geografi

Dua gapura pertama lahir di pedalaman Brantas, pusat kekuasaan agraris Majapahit. Dua gapura berikutnya muncul di pesisir utara—Gresik dan Lamongan—pusat perdagangan dan dakwah Islam. Pergeseran ini bukan kebetulan. Jalur laut sedang jadi urat nadi ekonomi. Para wali dan saudagar muslim menguasai pelabuhan, sementara pedalaman mulai meredup.

Kata-kata Hari Ini

Sekarang, Bajang Ratu dan Wringin Lawang jadi destinasi wisata sejarah. Sunyi, anggun, kadang ramai pelajar. Gajah Mungkur dan Sendang Duwur? Hidup. Ziarah tak pernah sepi. Doa, tahlil, lampu minyak masih menyala tiap malam.

Itu bedanya: warisan Hindu–Buddha kita rawat sebagai monumen. Warisan Islam tetap jadi bagian ibadah. Tapi keduanya sama penting: sama-sama wajah Indonesia.

Simpulan

Manfud Aly—jika meneliti naskah ini—mungkin akan menambahkan: “Empat gapura itu bukan hanya benda mati. Mereka adalah teks batu yang menulis sejarah Jawa Timur.”

Benar. Membaca gapura seperti membaca buku tanpa huruf. Dari Bajang Ratu yang megah, Wringin Lawang yang tegas, Gajah Mungkur yang lembut Islami, hingga Paduraksa Sendang Duwur yang memandang laut, kita melihat transformasi berabad-abad.

Tak ada garis putus. Hanya alur yang mengalir. Bata merah Majapahit tetap menyala di zaman wali. Budaya lama tak lenyap; ia bernegosiasi, berbaur, lalu lahir kembali dengan nama baru.

Jadi, bila ingin merasakan sejarah bukan sebagai angka tahun, datanglah ke empat gapura ini. Sentuh bata merahnya. Hirup udara lembapnya. Dengarkan bisikannya. Jawa Timur menulis dirinya sendiri, satu bata, satu gapura, satu zaman.

Penulis: Hanajuwa

Tanggal: 11 September 2025 23:06

Disetujui

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya

Tentang Kami

Website ini merupakan portal resmi PC Pergunu Lamongan

Kontak Kami

Alamat: Jl. Kiyai Amin No. 9, Lamongan

Telepon: 0813-3033-8328

Email: admin@pergunulamongan.or.id


© 2026 PC. Pergunu Lamongan. All Rights Reserved.