PC Pergunu Lamongan
Kirab Maulid Nabi di TPQ Al-Mansyuriah Ababil: Syiar Kebersamaan Santri dan Wali
Kirab Maulid Nabi di TPQ Al-Mansyuriah Ababil: Syiar Kebersamaan Santri dan Wali

LAMONGAN, – Suasana Dusun Dukuh, Desa Dukuhagung, tampak berbeda pada Sabtu sore (20/9). Ratusan santri bersama wali santri, ustadz, dan ustadzah berbaur dalam Kirab Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh TPQ Al-Mansyuriah Ababil. Peringatan kelahiran junjungan Nabi akhir zaman ini berlangsung meriah sekaligus penuh kekhidmatan.

Acara dimulai dari halaman TPQ Al-Mansyuriah Ababil. Sejak pukul tiga sore, halaman telah dipadati para santri yang datang dengan busana islami seragam: baju koko, sarung, dan peci bagi santri putra; serta gamis putih dan kerudung indah bagi santri putri. Wali santri yang turut mendampingi menambah semarak acara, sebagian membawa perlengkapan kirab seperti bendera kecil, poster bertuliskan shalawat, hingga peralatan rebana.

Kirab dimulai dengan doa pembuka yang dipimpin oleh ustadz senior. Setelah itu, barisan dibentuk rapi: para santri di depan, diikuti ustadz-ustadzah, lalu para wali santri. Suasana religius langsung terasa ketika gema shalawat dilantunkan bersama-sama, mengiringi langkah kaki menuju rute kirab mengelilingi Dusun Dukuh.

Di sepanjang jalan, warga desa tampak antusias. Banyak yang keluar rumah untuk menyambut barisan kirab, melambaikan tangan, bahkan ikut mengumandangkan shalawat. Iringan hadrah dan rebana yang ditabuh para pemuda semakin memeriahkan suasana. Anak-anak kecil berlarian mengikuti rombongan dengan wajah ceria, menandakan syiar Maulid benar-benar menjadi pesta kebersamaan warga.

“Kirab ini bukan hanya untuk meramaikan peringatan Maulid Nabi, tetapi juga sebagai syiar. Anak-anak santri kita ajarkan cinta Rasulullah sejak dini, sekaligus menanamkan rasa kebersamaan dengan masyarakat sekitar,” tutur salah satu pengurus TPQ Al-Mansyuriah Ababil.


Jajaran Dewan Asatidz

Jajaran Dewan Asatidz


Setelah kurang lebih satu jam berkeliling dusun, rombongan kembali tiba di halaman TPQ. Meski lelah, semangat peserta tidak surut. Wajah ceria para santri justru terlihat semakin terpancar, terutama ketika acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah.

Hadiah diberikan kepada santri yang dinilai rajin, berprestasi, serta aktif mengikuti kegiatan TPQ. Para ustadz dengan sabar memanggil nama-nama santri satu per satu. Suasana riuh dengan tepuk tangan ketika masing-masing penerima maju ke depan. Hadiah yang sederhana menjadi simbol penghargaan, sekaligus motivasi agar semangat belajar agama semakin meningkat.

Puncak acara ditandai dengan makan tumpeng tahu bersama. Tumpeng yang disiapkan oleh panitia dan wali santri disajikan di tengah halaman. Santri, ustadz, wali santri, hingga pengurus YAMAN (Yayasan Al-Mansyuriah) duduk melingkar, menikmati hidangan penuh kebersamaan. Tidak ada sekat antara guru, murid, maupun masyarakat. Semua berbaur dalam suasana hangat, sambil bercengkerama dan berbagi cerita.

Salah satu pengurus yayasan yang hadir, Ustaz Nurdin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kebersamaan seperti ini sangat berharga. Semoga anak-anak semakin cinta Rasulullah dan semakin rajin belajar di TPQ. Acara ini juga mempererat silaturahmi antara wali santri, ustadz, dan pengurus yayasan,” ujarnya.

Kirab Maulid di TPQ Al-Mansyuriah Ababil memang rutin digelar tiap tahun, namun antusiasme kali ini terasa lebih besar. Jumlah peserta meningkat, demikian juga dukungan masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan keagamaan di tingkat desa memiliki tempat istimewa di hati warga.

Selain menjadi bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, kirab juga memiliki nilai pendidikan. Santri belajar kedisiplinan melalui barisan, belajar keberanian tampil di hadapan masyarakat, serta memahami arti penting syiar Islam. Di sisi lain, wali santri mendapat kesempatan memperkuat hubungan sosial, membangun rasa kebersamaan, dan menanamkan kebanggaan bahwa anak-anak mereka sedang meniti jalan ilmu agama.



Suasana Kirab

Suasana Perayaan Maulid

Momen kebersamaan dalam Maulid Nabi di Dusun Dukuh ini sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui tradisi dan perayaan yang hidup di tengah masyarakat. Kirab, pembacaan shalawat, pembagian hadiah, hingga makan tumpeng tahu bersama menjadi rangkaian yang sederhana namun penuh makna.

Dengan penuh harap, panitia dan pengurus TPQ Al-Mansyuriah Ababil menegaskan komitmennya untuk terus melestarikan tradisi ini. Mereka percaya, syiar kebersamaan yang terbangun akan menjadi bekal berharga dalam membentuk generasi Qur’ani yang mencintai Rasulullah, berakhlak mulia, dan mampu menjaga nilai-nilai Islam di masa depan.


Pewarta: Mahfudz Ali Tinaro Kontributor

Tanggal: 21 September 2025 13:46 | Views: 571

Berita Resmi

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya