Tersesat di Metaverse Pendidikan: Mengapa Guru Wajib Melek Literasi Digital
Tersesat di Metaverse Pendidikan: Mengapa Guru Wajib Melek Literasi Digital

Ali Rofik
Guru MTs ASH SHOLIHUDDIN DAMPIT
Prestasi: Juara 1 Story Telling E-Guru Digital, Juara 1 Penulisan Opini di Ruang Bestari Indonesia
Organisasi: Kontributor NUMALANG.ID



Sebagai Guru hari ini kita telah masuk di Era di mana berita dan telepon tak lagi mengenal batas dan tentang seberapa sering kita benar-benar memanfaatkan teknologi untuk menelaah diri sebagai pendidik?
Gadget, yang seharusnya menjadi alat pembelajaran dan pengembangan diri, seringkali hanya berhenti sebagai media informasi kasual. Visi utama kita sebagai pembalut kebodohan generasi bangsa perlu terus dibina, dimulai dari refleksi diri yang jujur. Kecongkakan dan rasa percaya diri yang tidak didasari oleh pengembangan diri berkelanjutan justru bisa menjadi penghalang utama.Gelombang inovasi pendidikan yang seyogianya membawa kita maju, malah terhambat karena banyak guru yang belum sepenuhnya menginternalisasi potensi digital untuk profesinya. Bagi Guru yang stagnan tentu mereka disetiap harinya akan menanamkan pertanyaan `Sudahkah saya belajar kembali?` kalimat Ini adalah refleksi yang menusuk kalbu.
Di era ini, dunia digital membentangkan samudra pengetahuan tak terbatas bagi para pendidik. Inovasi pendidikan digital telah menawarkan segudang potensi: personalisasi pembelajaran, akses tak terbatas ke sumber daya, hingga kolaborasi lintas batas. Literasi digital yang sesungguhnya yang terbawa arus inovasi Pendidikan telah mencakup kemampuan untuk mencari, menggali, menggunakan, bahkan menciptakan informasi secara efektif dan aktif dalam ekosistem sosiologi pendidikan.
Dari kacamata sosiologi pendidikan, guru profesional adalah individu yang tidak hanya cakap dalam mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi agen transformatif yang mampu membentuk individu-individu berdaya dan masyarakat yang adaptif di tengah arus perubahan sosial utamanya dalam mengintegritaskan makna Literasi Digital. Profesionalisme mereka adalah fondasi bagi terciptanya masyarakat yang belajar dan berkelanjutan. Sebagai Insan yang diwajibkan untuk membaca dan memahami sebuah kalimat, tentu sebuah literasi menjadi ujung tombak dalam membawa arus yang baik dalam dunia Digital. Bagi sebagian besar, teknologi justru menjadi momok yang menambah beban kerja, bukannya motor penggerak inovasi. Mereka masih merasa terintimidasi oleh perubahan yang begitu cepat, merasa tidak kompeten, dan pada akhirnya memilih untuk mengakhiri atau bahkan menolak mengadopsi teknologi dalam praktik kegiatan belajar mengajar mereka.
Kendala ini justru menjadi bias bagi kalangan Masyarakat, bahwa identitas guru banyak yang menurun. Bukan karena model pengajarannya, tapi tentang sosiologi pendidikannya. Sudahkah mereka benar-benar sadar bahwa kita sedang di Dunia Digital? Setidaknya ada beberapa factor yang mempengaruhinya. Pertama, pemerintah dan institusi pendidikan harus menjadi penengah untuk memberikan akses terhadap sarana-prasarana digital dan perangkat yang layak. Kedua, Program pelatihan literasi digital harus dirancang ulang agar lebih anilitik, berkesinambungan, dan relevan dengan kebutuhan spesifik guru di berbagai jenjang. Ketiga, budaya saling berbagi dan berkolaborasi antar guru perlu didorong. Komunitas belajar profesional, baik secara berani maupun memikat, dapat menjadi wadah bagi guru untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengatasi tantangan bersama. Terakhir, seorang guru profesional wajib memiliki kemauan dan inisiatif kuat untuk terus mengembangkan diri.
Memberkati Guru Profesional justru perlu waktu, Di Negara Lain menjadi Guru sangat-sangat menegangkan. Menjadi krusial saat menjelang penetapan kelulusan kepantasan menjadi guru tidak semudah di Indonesia. Cukup daftar yang penting bisa mengaplikasikan miscorsoft dan gadget itu gampang. Kendati demikianlah yang membuat profesi guru betul-betul kehilangan Marwah Berinovasi.
Setiap bagan jabatan guru yang perlu dilewati dengan jalur-jalur keaktifan, responsif dan berinovasi, kini hampir suram. seperti sistem politik partai yang tak kunjung usai, tetap berdiri tegak untuk mencari kebahagian dan kemenangan nafsu pribadi. Perlu kita pikirkan bahwa profesi guru adalah suatu profesi nomor 1 di Dunia. Penting untuk diingat, profesionalisme di era digital tidak mengenal batas usia. Baik guru muda maupun guru senior, keduanya memiliki peran krusial dalam adaptasi dan inovasi ini.
Guru Muda: Meskipun akrab dengan teknologi sejak dini, mereka perlu diarahkan untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif, melainkan kreator dan inovator pembelajaran digital. Literasi digital mereka harus diperdalam hingga mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna dan etis. Jangan sampai keahlian berselancar di media sosial tidak berbanding lurus dengan kemampuan mengelola kelas daring yang efektif atau memanfaatkan data untuk personalisasi pembelajaran.
Guru Senior: Mereka memiliki kekayaan pengalaman pedagogis dan pemahaman mendalam tentang karakteristik siswa. Pengalaman ini adalah aset tak ternilai. Tantangannya adalah jembatan menuju dunia digital. Alih-alih merasa terintimidasi, guru senior perlu didukung melalui pelatihan yang inklusif, pendampingan yang sabar, dan melihat teknologi sebagai alat yang dapat memperluas jangkauan dan efektivitas metode pengajaran tradisional mereka. Semangat untuk terus belajar dan beradaptasi adalah kunci profesionalisme mereka di era baru ini.
Mari sadar, bahwa arus inovasi pendidikan digital akan terus menggelegak. Agar para guru tidak keram di dalamnya dan focus menjadi guru yang professional, fondasi literasi digital harus diperkuat. Ini bukan hanya demi kemajuan teknologi, melainkan demi masa depan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Sudah saatnya kita mengurangi kebiasaan yang kurang baik, minder atau merasa tidak mampu dan beralih menjadi orang yang bisa merasa akan kekurangan dalam berliterasi dan berinovasi. Hanya dengan demikian, para guru dapat benar-benar bertransformasi menjadi nahkoda ulung yang piawai mengarungi samudra pembelajaran digital.

Tanggal: 20 October 2025

Informasi Kajian

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya