Krisis Otoritas Guru dan Kematian Pendidikan Karakter: Sebuah Esai Kritis
Krisis Otoritas Guru dan Kematian Pendidikan Karakter: Sebuah Esai Kritis

Oleh: Muhammad Asrori


Otoritas—ia bukan sekadar posisi, melainkan amanat ruhani yang ditegakkan di atas mimbar kebijaksanaan. Namun, hari ini, amanat itu terasa luluh lantak, dicabik oleh amarah tak bertepi dan hukum rimba kuasa yang menempatkan arogansi di atas keadaban. Kasus yang menimpa Eko Prayitno di Trenggalek—sebuah episode penyitaan gawai karena pelanggaran, yang berujung pada bogem mentah dan ancaman serius—bukanlah sekadar catatan kriminal biasa; ia adalah epitaf yang menyayat tentang matinya marwah guru di hadapan ego sosial yang meruah.

Kasus Trenggalek, serupa dengan penindasan yang menimpa Dasrul di Makassar, atau bahkan dilema tragis guru di Lamongan yang memilih membiarkan murid tertidur demi menghindari perseteruan, menjustifikasi satu tesis yang menggugat: Pendidikan karakter di Indonesia sedang mengalami defisit legitimasi yang parah, berakar pada disfungsi kronis antara Tri Pusat Pendidikan.

Paradoks Otoritas yang Dikebiri: Kaca Retak Habitus Sosial

Mengapa delegasi pendidikan, yang seharusnya diserahkan orang tua kepada sekolah dengan penuh kepasrahan dan hormat, justru berbalik menjadi pisau belati yang menusuk sang pendidik? Kekerasan yang meruap dari balik tirai kekuasaan, seperti yang dilakoni AW (27), adalah arena pertempuran sosiologis yang meminjam lensa Pierre Bourdieu. Di sinilah Habitus dan Cultural Capital dipertontonkan: ancaman dan makian pelaku adalah upaya demonstrasi kapital sosial—sebuah otoritas semu yang merasa berhak menginjak-injak otoritas institusional guru yang dianggap "rendah." Ini adalah tragedi di mana hukum dan supremasi orang tua disulap menjadi supremasi amarah, membungkam etika profesi demi pemuasan hak istimewa yang keliru.

Tindakan tersebut, betapa pun personalnya, menciptakan rantai getah kekerasan yang ditonton dan diserap oleh lingkungan siswa. Lingkungan pun berubah menjadi Mesosystem yang beracun, sebagaimana diperingatkan oleh Teori Sistem Ekologi Urie Bronfenbrenner, merobek harmoni antara rumah (keluarga) dan sekolah.

Karakter: Merawat Tanaman Jiwa dalam Simfoni yang Retak

Pendidikan karakter, sejatinya, adalah upaya merawat tanaman jiwa yang jauh melampaui pagar kognitif belaka. Jika hanya kecerdasan hitungan yang dikejar, mesin kecerdasan buatan (AI) telah lama menjadi avatar yang sempurna. Namun, karakter menuntut ranah rasa, etika budi, dan keteladanan yang hanya bisa diukir oleh sentuhan dan kehadiran manusiawi.

Inilah spirit abadi Ki Hajar Dewantara dalam konsep Tri Pusat Pendidikan (Keluarga, Sekolah, Masyarakat). Pendidikan karakter hanya mungkin terwujud jika ketiga pilar ini bekerja dalam simfoni komplementer, saling menghormati peran, dan bergerak dalam harmonisasi nilai. Saat guru diserang karena sehelai disiplin gawai, ini pertanda bahwa peran sekolah sebagai sentra penanaman nilai telah dikebiri, ditinggalkan dalam kesendirian yang getir oleh keluarga yang permisif atau masyarakat yang apatis. Pendidikan karakter sejati menuntut: Sekolah sebagai panggung etika, Keluarga sebagai benteng moral, dan Masyarakat sebagai cermin keadaban. Ketika orang tua menyerahkan anak, mereka seharusnya menyerahkan mandat pendidikannya, bukan sekadar penitipan fisik tanpa tanggung jawab etis.

Menuju Rekonstruksi Marwah Guru

Kematian marwah guru adalah kemusnahan nurani kolektif, sebuah tragedi yang tak boleh kita biarkan menjadi nisan peradaban. Untuk memulihkan tatanan yang runtuh ini, kita memerlukan langkah yang radikal dan restoratif.

Pertama, benteng Regulasi dan Perlindungan Hukum harus didirikan dan diperkuat, memastikan bahwa setiap tarikan napas disiplin guru dalam koridor mendidik tidak berakhir di meja hijau atau di bawah ancaman kuasa. Guru harus memiliki imunitas yang jelas. Kedua, Kolaborasi Wali Murid harus diubah dari formalitas menjadi sebuah sumpah setia kolektif; wali murid harus diangkat menjadi mitra etis, bukan oposisi bagi aturan sekolah. Ketiga, Supremasi Moral Pendidik harus dikukuhkan kembali, melepaskannya dari belenggu intimidasi material. Profesi ini harus kembali dihormati sebagai profesi yang menuntut kearifan dan kekuasaan moral.

Hanya dengan kembalinya penghormatan ini, benih-benih karakter dapat mekar, bukan di bawah langit ketakutan, melainkan dalam lingkaran cahaya kearifan yang menyinari. Masa depan generasi ditentukan bukan hanya oleh kurikulum kognitif, tetapi oleh keberanian kolektif kita untuk mengembalikan marwah dan otoritas guru, menjadikan sekolah kembali sebagai suaka keadaban, dan keluarga sebagai benteng etika yang tak tergoyahkan.

Tanggal: 06 November 2025

Informasi Kajian

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya