Oleh : Sukardi, S.Pd
Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) memegang peran penting dalam membentuk karakter keislaman sejak usia dini. Melalui tangan-tangan merekalah generasi Qur’ani tumbuh dengan dasar moral dan spiritual yang kuat. Namun, di balik ketulusan itu, tersimpan realitas getir: sebagian besar guru TPQ di Indonesia mengajar tanpa gaji tetap, bahkan tanpa jaminan kesejahteraan yang pasti.
Dalam sistem pendidikan Islam nonformal, guru TPQ bukan sekadar pengajar, tetapi juga penjaga nilai-nilai ilahiah. Mereka mendidik dengan niat ibadah dan keikhlasan, meski kesejahteraan mereka seringkali jauh dari cukup. Fenomena ini melahirkan paradoks: di satu sisi, keikhlasan menjadi landasan spiritual; di sisi lain, kebutuhan ekonomi tetap menjadi kenyataan yang tak terhindarkan.
Secara konseptual, ikhlas dalam Islam berarti melakukan amal karena Allah SWT semata, tanpa pamrih duniawi. Bagi guru TPQ, nilai ini menjadi energi moral dalam pengabdian mereka. Namun, dalam perspektif sosiologis dan ekonomi pendidikan, keberlanjutan sebuah lembaga tidak dapat bergantung hanya pada idealitas moral—melainkan perlu dukungan sistem yang berpihak pada kesejahteraan pendidik.
Hasil wawancara dengan guru TPQ menunjukkan bahwa keikhlasan mereka bukan bentuk kepasrahan, melainkan jihad pendidikan untuk menjaga generasi Qur’ani. Seorang guru menyatakan :
“Kalau niat kita karena Allah, meskipun tidak dibayar, hati tetap tenang. Karena yang memberi rezeki bukan santri, tapi Allah.”
Namun di tengah semangat spiritual tersebut, tekanan ekonomi tetap menjadi tantangan besar. Banyak guru yang terpaksa mencari pekerjaan tambahan atau berhenti sementara dari pengajaran. Akibatnya, keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an nonformal pun terancam.
Dalam kerangka etika Islam, keikhlasan merupakan puncak amal ibadah (Al-Ghazali, 2005). Tetapi menurut Maslow (1943), kebutuhan dasar seperti pangan dan keamanan harus terpenuhi agar seseorang dapat mencapai aktualisasi spiritual. Artinya, keikhlasan tidak boleh dijadikan alasan untuk meniadakan hak hidup layak bagi para guru TPQ.
Ironis, di negeri ini secara nasional dan Pemerintah Daerah yang mayoritas Penduduknya Adalah beragama Islam, para guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) justru sering diperlakukan seolah tak ada. Mereka mengabdikan waktu, tenaga, dan ilmu untuk menanamkan huruf-huruf suci Al-Qur’an kepada anak-anak bangsa, namun pemerintah seakan menutup mata terhadap kesejahteraan mereka. Tak ada tunjangan, tak ada perlindungan sosial, bahkan sekadar perhatian pun terasa langka. Padahal, dari ruang-ruang kecil di mushala dan surau itulah lahir generasi yang mampu membaca, memahami, dan mencintai Al-Qur’an.
Namun, sungguh miris, mereka yang menanam cahaya iman justru hidup dalam bayang ketidakpastian. Pemerintah seolah abai, seakan pengabdian guru TPQ hanyalah bagian dari kerja sukarela yang tak perlu dihargai. Padahal, tanpa mereka, nilai-nilai moral dan spiritual bangsa ini akan rapuh.
Para guru TPQ adalah sosok yang menanamkan pondasi religius pada anak-anak—pondasi yang kelak menjadi sumber doa bagi kedua orang tuanya ketika telah tiada. Dari tangan merekalah tumbuh generasi yang mampu membaca Al-Qur’an, mengenal huruf hijaiyah, dan memahami makna ibadah.
Guru TPQ bukan sekadar pengajar agama; mereka adalah penjaga masa depan umat, pembentuk karakter anak-anak yang kelak menjadi penerus doa dan amal jariyah. Sudah seharusnya negara hadir, bukan hanya memuji keikhlasan mereka, tetapi juga menegakkan keadilan kesejahteraan.
Sebab, doa anak saleh yang diajarkan oleh guru TPQ—itulah bekal abadi bagi orang tua, masyarakat, dan bangsa ini.
Kondisi ini menuntut keadilan sosial dalam pendidikan Islam. Undang-Undang Guru dan Dosen (UU No. 14 Tahun 2005) telah menegaskan pentingnya penghargaan terhadap tenaga pendidik, namun implementasinya masih terbatas di lembaga nonformal seperti TPQ. Karena itu, dukungan dari negara, masyarakat, dan lembaga keagamaan menjadi fardhu kifayah bagi keberlangsungan misi Qur’ani.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Keikhlasan dan kesejahteraan bukan dua hal yang berlawanan. Justru keduanya harus berjalan beriringan — agar semangat pengabdian guru TPQ tetap tumbuh di atas pondasi kehidupan yang layak dan bermartabat.
Tanggal: 04 November 2025
Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026
MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...
Baca SelengkapnyaOleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026
Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...
Baca SelengkapnyaOleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025
Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...
Baca SelengkapnyaOleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025
Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...
Baca Selengkapnya