Menakhodai Marwah di Tengah Gelombang Reduksi: Harapan Kritis untuk PCNU Lamongan 2025-2030
Menakhodai Marwah di Tengah Gelombang Reduksi: Harapan Kritis untuk PCNU Lamongan 2025-2030

Oleh: Dr. Muhammad Asrori (Ketua PC. Pergunu Lamongan)

Lamongan, 22 November 2025. Tanggal itu bukan sekadar catatan kalender, melainkan penanda estafet kepemimpinan, peneguhan kembali janji historis, dan penentuan arah kiblat gerakan Nahdlatul Ulama di Bumi Lamongan tercinta ini. Di bawah kibaran banner pelantikan dengan diksi yang ambisius, "Membersamai Umat Memenangi Masa Depan," tersemat harapan agar khittah kepengurusan baru tidak hanya berkutat pada kontestasi politik praktis, tetapi juga menjelma menjadi arsitek agenda sosial-ekonomi dan kebudayaan yang kokoh.

Harapan ini hadir di tengah konstelasi yang kian menantang, manakala upaya mereduksi marwah (dignitas, integritas) organisasi keagamaan-kemasyarakatan (baca:NU), serta serangan sistematis terhadap institusi ke-NU-an yang paling fundamental—pesantren dan para kiai—kian marak. Serangan tersebut, seringkali bersembunyi di balik jargon modernitas atau puritanisme, adalah upaya nyata untuk merobek jalinan otentisitas gerakan sosial NU, yang telah terbukti menjadi payung kebangsaan. Serangan tersebut, multi aras dan kadang ditepuktangani oleh warga NU sendiri secara sadar dan tidak sadar.

Gerakan Sosial dan Resonansi Bingkai Aksi Kolektif
Dalam ranah ilmu sosial, slogan pelantikan ini dapat kita bedah melalui lensa Teori Pembingkaian (Framing Process) ala David Snow dan Robert Benford. Framing adalah proses di mana para pemimpin gerakan sosial menginterpretasikan dan mendefinisikan realitas untuk memobilisasi orang. Slogan “Membersamai Umat Memenangi Masa Depan” adalah sebuah bingkai aksi kolektif (collective action frame).
Bingkai ini harus memenuhi tiga fungsi kunci agar berhasil. Pertama, Diagnostic Framing, yaitu mengidentifikasi masalah dan menyalahkan pelakunya; dalam konteks NU secara umum dan Lamongan secara khusus, masalahnya adalah reduksi marwah dan serangan terhadap kiai atau pesantren. Kedua, Prognostic Framing, yakni menawarkan solusi yang tak lain adalah aksi kolektif PCNU Lamongan. Ketiga, Motivational Framing, yang berfungsi mendorong orang untuk bertindak melalui janji "Memenangi Masa Depan." Semua gerak langkah PCNU Lamongan harus menjadi motivasi gerak warganya, dengan mengindikasikan bahwa NU sedang mendekati kemenangan di masa depan.

Namun, framing ini tidak sepantasnya dimaknai sebagai upaya memenangkan satu atau dua kursi politik, karena resonansinya akan dangkal dan terbatas. Kemenangan masa depan yang sejati mensyaratkan bingkai yang melampaui politik elektoral, merasuk ke ranah yang lebih fundamental, yaitu keberlanjutan sosial dan kemandirian umat.

Memobilisasi Sumber Daya untuk Kemenangan Ekonomi Umat
Kemenangan masa depan paling nyata sesungguhnya terletak pada sektor sosial-ekonomi. Di sini, Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory) oleh McCarthy dan Zald menjadi amat relevan. Gerakan NU Lamongan memiliki sumber daya yang melimpah, mulai dari jejaring pesantren, lembaga pendidikan formal, aset tanah wakaf, hingga potensi koperasi dan UMKM yang dikelola oleh komunitas Muslimat dan Fatayat.

Tantangannya adalah, bagaimana PCNU Lamongan mengubah aset laten ini menjadi modal aksi yang terorganisir dan efisien. Janji membersamai umat harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberdayakan, misalnya dimulai dari menciptakan konsolidasi ekonomi ala Baitul Maal wa Tamwil (BMT) berbasis masjid dan pesantren yang mampu menopang usaha-usaha kecil Nahdliyin, hingga mengembangkan platform digital yang menghubungkan produk-produk UMKM Nahdliyin Lamongan ke pasar yang lebih luas, memanfaatkan modal sosial dan demografi santri yang masif.

Reduksi marwah organisasi seringkali terjadi karena ketergantungan finansial pada kekuatan eksternal. Kemenangan ekonomi adalah benteng pertama melawan upaya pereduksian itu. Kemandirian ekonomi adalah oksigen bagi kemandirian organisasi.

Perlawanan Kultural: Menjaga Episteme Kiai dan Pesantren
Aspek paling kritis dari gerakan ini adalah ranah kebudayaan. Serangan terhadap institusi ke-NU-an, terutama kiai dan pesantren, bukanlah semata urusan personal, melainkan upaya mendelegitimasi sebuah ”episteme”—cara pandang, cara berpikir, dan sistem pengetahuan—yang telah menjaga keragaman Islam Indonesia.

Pergulatan identitas ini membawa kita pada Teori Gerakan Sosial Baru (New Social Movements/NSM) yang dikembangkan oleh pemikir seperti Alain Touraine dan Alberto Melucci. Berbeda dengan gerakan sosial lama yang berpusat pada konflik kelas dan redistribusi materi, NSM berfokus pada isu-isu non-material seperti identitas, budaya, dan kualitas hidup. Melucci menekankan bahwa gerakan sosial baru adalah ekspresi perjuangan untuk otonomi budaya dan pengakuan identitas kolektif di tengah masyarakat pasca-industri. Dengan demikian, tugas PCNU Lamongan adalah mempertahankan identitas organisasinya sebagai penjaga tradisi Nusantara, yang menjadi penopang utama otentisitasnya.

Memenangi masa depan berarti menjaga otoritas keilmuan para kiai sebagai pewaris sah tradisi keislaman Nusantara. PCNU Lamongan harus menjadikan pelantikan ini sebagai momentum re-artikulasi peran Kiai. Peran ini mesti dihidupkan melalui gerakan yang terorganisir, salah satunya Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan LP. Maarif Lamongan yang dapat menjadi kekuatan gerak yang luar biasa sebagai benteng intelektual di lini depan pendidikan. Pergunu adalah jaringan profesional yang bertugas menerjemahkan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah ke dalam kurikulum dan praktik pengajaran modern, menjamin transmisi nilai yang utuh kepada generasi mendatang. Sedangkan LP. Maarif dapat bergerak di ranah penataan kelembagaan pendidikan formal yang berafiliasi ke NU.

Lebih lanjut, ranah literasi keilmuan harus diperkuat. Di sinilah tradisi Bahtsul Masail, yang selama ini menjadi mesin pengambilan keputusan hukum Islam di NU, harus diangkat sebagai gerakan literasi. Bahtsul Masail adalah cara otentik pesantren untuk membaca realitas sosial, merumuskan masalah (literasi diagnostik), dan menawarkan solusi tuntas (literasi preskriptif) secara metodologis, menjadikan pandangan kiai sebagai solusi yang kontekstual dan mencerahkan, bukan sekadar pelestari ritual. Terakhir, semangat membersamai umat juga harus diwujudkan melalui ranah estetika, yaitu menggunakan modal kebudayaan khas Lamongan—seni, sastra, dan tradisi lokal—sebagai medium dakwah yang renyah dan mengakar.
Ketika marwah kiai dan pesantren terjaga, ketika Pergunu tegak sebagai tiang penyangga pendidikan, dan Bahtsul Masail menjadi mercusuar literasi, maka marwah Nahdlatul Ulama sebagai penjaga peradaban akan terpelihara.

PCNU Lamongan 2025 dihadapkan pada mandat sejarah: tidak hanya merayakan seremoni pelantikan, tetapi merumuskan ulang janji gerakan. Slogan “Membersamai Umat Memenangi Masa Depan” harus dibaca sebagai peta jalan holistik: dari mempertahankan integritas spiritual (marwah), memobilisasi kekuatan ekonomi umat, hingga meneguhkan kembali otentisitas kultural dan intelektual. Hanya dengan kesatuan gerak yang multidimensi inilah, NU Lamongan benar-benar akan menjadi nakhoda yang tangguh di tengah gelombang zaman.

Selamat dan sukses pelantikan PCNU Lamongan 2025-2030. Semoga Allah SWT selalu menjaga setiap gerak langkah kyai-kyai kita!

Tanggal: 19 November 2025

Informasi Kajian

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya