Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Adab
Mengajar dengan Hati, Mendidik dengan Adab

Oleh: Ikbar Zakariya, S.Pd

Menjadi guru bukan sekadar soal profesi, tapi panggilan hati. Di balik buku, nilai, dan kurikulum, tersimpan tugas mulia yang tak tertulis: membentuk manusia yang beradab. Seorang guru bukan hanya penyampai ilmu, tapi juga pembimbing jiwa. Karena itu, guru yang dirindukan murid bukan sekadar yang pandai mengajar, melainkan yang mampu menjadi teladan dan penuh kasih dalam mendidik.

Dalam tradisi pesantren, ilmu selalu berjalan seiring dengan adab. Seorang santri belajar untuk “ngalap berkah” dari gurunya, menghormati dengan hati yang tunduk, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menjaga tutur kata saat berhadapan dengan pengajar. Sebab, ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa akar, mudah tumbang dan tak berbuah.

Sebagaimana pesan Imam Malik rahimahullah:
تَعَلَّمُوا الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمُوا العِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, jilid 1, hlm. 52).
Pesan hikmah ini menjadi Ruh pendidikan pesantren: keberkahan ilmu lahir dari hormatnya murid kepada guru. Guru yang dirindukan bukan diukur dari kepintaran atau jabatan, tapi dari kemampuannya menanamkan akhlak dan kesantunan dalam setiap pertemuan.

Saya masih ingat pesan Kiai saat ngaji di pesantren, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW yang menegaskan pentingnya menghormati orang berilmu:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengenal hak orang berilmu.” (HR. Ahmad, No. 22808).

Hadis ini menjadi dasar kuat bagi para santri untuk selalu menanamkan rasa hormat kepada guru. Sebab menghormati guru berarti menghargai ilmu yang dibawanya. Bahkan Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: (QS. Al-Mujādalah: 11).
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Ayat ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang berilmu di sisi Allah SWT. Maka, menghormati guru bukan hanya bentuk sopan santun, tetapi juga bagian dari ketaatan dan jalan menuju keberkahan.

Guru yang dirindukan hadir bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan keikhlasan. Ia sabar saat muridnya lambat memahami, lembut ketika menegur, dan tak pernah lelah menanamkan kebaikan. Dari sosok seperti inilah murid belajar bahwa pendidikan bukan sekadar soal memahami pelajaran, tapi juga soal membentuk adab dan akhlak.

Nilai-nilai ini kini dihidupkan kembali lewat “Kurikulum Cinta” yang digagas oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. dan dijalankan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Kurikulum ini menekankan pendidikan yang berpijak pada kasih sayang, adab, dan nilai-nilai kemanusiaan universal (Kemenag.go.id, 2024).

Hal senada juga ditegaskan oleh Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Kurikulum Cinta adalah “ikhtiar nyata” dalam menjawab tantangan pendidikan Islam masa kini, agar pendidikan tak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tapi juga kelembutan moral dan spiritual. Konsep ini selaras dengan filosofi pendidikan pesantren yang sudah turun-temurun: adab sebelum ilmu, kasih sebelum prestasi.
Guru yang mengamalkan semangat Kurikulum Cinta tidak sekadar mengejar nilai akademik, tapi juga membentuk karakter. Ia mengajar dengan hati, membimbing dengan sabar, dan menanamkan nilai moral lewat keteladanan sehari-hari. Di tengah derasnya arus modernisasi, nilai-nilai pendidikan seperti ini menjadi pengingat penting. Dunia boleh berubah, teknologi terus maju, tapi adab kepada guru dan cinta dalam mendidik tak boleh hilang. Sebab dari adab lahir keberkahan ilmu, dan dari cinta tumbuh generasi berkarakter.

Jika kini kita melihat anak-anak mulai berani melawan guru, itu pertanda bahwa nilai adab mulai pudar, dan di sanalah akar masalah bangsa ini. Padahal, pendidikan adab yang diwariskan pesantren sejatinya adalah fondasi utama pembentuk karakter anak.
Menjadi guru yang dirindukan berarti hadir dengan hati, mengajar dengan kasih, dan mendidik dengan keteladanan. Ia bukan hanya mencerdaskan pikiran, tapi juga menghangatkan jiwa. Sebab, kelak ketika murid-murid itu tumbuh dewasa, yang mereka kenang bukan sekadar pelajaran di papan tulis, melainkan doa, kesabaran, dan ketulusan seorang guru yang benar-benar dirindukan oleh guru yang menebar cinta dalam setiap langkah pendidikannya.


Ikbar zakariya, S. Pd
Pengajar di Yayasan Islam Azzumar, Kalipare
Wakil Ketua IPNU Kabupaten Malang Bidang Pesantren

Tanggal: 22 October 2025

Informasi Kajian

Kolom Opini
MTs. Mamba’ul Ma’arif Banjarwati Paciran Lamongan Gelar ASSUFI 2026, Wadah Prestasi Seni dan Olahraga SD/MI se-Jawa Timur

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 16 Feb 2026

MTs. MAMBA’UL MA’ARIF BANJARWATI PACIRAN LAMONGAN Ajang Spe...

Baca Selengkapnya

Menutup 2025, Menyongsong 2026

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 01 Jan 2026

Pelantikan Pengurus PC. PERGUNU Lamongan Masa Khidmah 2025-2030 C...

Baca Selengkapnya

Libur Telah Usai: Menata Kesiapan Emosi sebagai Fondasi Belajar Bermakna

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 30 Dec 2025

Masuk sekolah setelah libur panjang ibarat menyalakan mesin kendaraan yang lama ...

Baca Selengkapnya

Ketika Musa Bertemu Khidir di PBNU: Siapa Melubangi Perahu dan Siapa Menjaga Syariat?

Oleh: Muhammad Asrori | 30 Nov 2025

Kisah agung pertemuan Nabiyullah Musa a.s. dengan seorang hamba saleh yang dianu...

Baca Selengkapnya